DORONG PELAKSANAAN PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DENGAN APLIKASI APH

PONOROGO-Pada hari Senin tanggal 30 Mei 2022 bertempat di lahan sawah Kelompok Tani Bhakti Pertiwi Desa Plalangan Kecamatan Jenangan telah dilaksanakan Gerakan Aplikasi Agen Pengendali Hayati (APH). Adapun APH yang diaplikasikan adalah jamur Beuveria bassiana. Jamur tersebut dapat mengendalikan dan mencegah serangan hama serangga. Pemilihan APH tersebut dikarenakan hasil pengamatan yang dilakukan oleh POPT dan Penyuluh Pertanian dalam beberapa musim tanam sebelumnya sering ditemukan serangan hama Wereng Batang Cokelat (WBC) di lahan sawah Kelompok Tani Bhakti Pertiwi.

Penyerahan bantuan APH

Kegiatan hari itu diawali dengan penyemprotan APH ke tanaman padi. Adapun dosis yang digunakan adalah 125 ml APH untuk 1 tangki semprot kapasitas 15 liter. APH yang digunakan merupakan bantuan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur untuk kebutuhan lahan seluas 5 Ha.

Mayang AH selaku POPT Kecamatan Jenangan menyampaikan bahwa penyemprotan APH perlu dilakukan pagi atau sore hari agar lebih efektif. “Karena target hama yang ingin dikendalikan adalah WBC, maka penyemprotan diarahkan pada bagian pangkal tanaman padi,” lanjutnya.

Saat penyemprotan APH, Suwarni, Koordinator POPT Kabupaten Ponorogo, mengingatkan para petani agar tindakan menyemprot dapat dilakukan secara teliti dan merata.

“Lahan Kelompok Tani Bhakti Pertiwi ini dijadikan dem aplikasi APH untuk mengendalikan hama WBC. Jika hasilnya bagus, maka penggunaan APH akan diperluas,” ungkapnya.

“Setelah penyemprotan, diharapkan petani juga melakukan pengamatan secara rutin untuk memastikan keberadaan hama WBC di lahan sawahnya,” imbuhnya.

“Saya ingatkan agar petani tidak melakukan penyemprotan pestisida kimia setelah penyemprotan APH karena dapat menyebabkan jamur Beuveria bassiana mati,” pesannya.

Pengukuran dosis APH sebelum diaplikasikan

Tarmuji, petugas dari Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura Madiun, dalam sambutannya menyampaikan bahwa saat ini pemeliharaan tanaman dan pengendalian OPT diarahkan pada pemanfaatan bahan organik dan bahan pengendali hayati. Misalnya PGPR yang dibuat dari akar bambu dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan akar yang baik. Ada juga pupuk alami yang dibuat dari rendaman sabut kelapa dan bonggol pisang yang kaya akan unsur K dan P, sehingga dapat menguatkan struktur batang padi.

“Setelah pelaksanaan gerakan aplikasi APH Beuveria bassiana ini harus ada tindak lanjut dari kelompok tani, baik itu pembuatan APH sendiri maupun aplikasi bahan organik lain dalam pemeliharaan tanaman,” harapnya.

Anggota kelompok tani menyambut baik kegiatan tersebut dan siap untuk melakukan tindak lanjut yang diperlukan. “Kami berterima kasih karena telah diberikan bantuan dan pengarahan terkait penggunaan APH ini,” ujar Muhammad Yudi, perwakilan pengurus Kelompok Tani Bhakti Pertiwi.

Pembuatan APH akan dimasukkan dalam salah satu agenda pelatihan pertanian di Kelompok Tani Bhakti Pertiwi, agar ke depannya biaya produksi bisa ditekan dengan tetap mendapatkan hasil panen yang tinggi.

Semakin meningkatnya intensifikasi pertanian menyebabkan meningkatnya jenis dan jumlah organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Untuk mengendalikannya, petani umumnya menggunakan pestisida kimia yang hanya efektif untuk satu kali serangan. Akibatnya, biaya pengendalian OPT semakin lama semakin meningkat. Belum lagi efek yang ditimbulkan ke lingkungan yang juga semakin besar. Penggunaan APH untuk mengendalikan OPT dapat menekan biaya produksi pertanian dan aman untuk lingkungan. Selain itu, aplikasi APH hanya perlu dilakukan satu kali dan dapat diulang jika populasi OPT cukup meningkat. Oleh karena itu, penggunaan APH merupakan salah satu bagian dalam pelaksanaan pertanian ramah lingkungan yang saat ini gencar diserukan oleh Kementerian Pertanian.

APH yang dapat dipakai untuk pengendalian OPT ada beberapa macam. Selain Beuveria bassiana, juga ada Trichoderma sp., Paenybacillus polymyxa, Bacillus thuringiensis (Bt), Pseudomonas fluorescens, Metarhizium anisopliea, dan Verticillium lecanii. Masing-masing APH tersebut memiliki target spesifik OPT yang dikendalikan dan tidak membunuh musuh alami OPT yang ada di lahan sawah. Misalnya, jamur Trichoderma sp. digunakan untuk mengendalikan penyakit blas/potong leher, layu fusarium, dan busuk batang, sementara untuk bakteri Paenybacillus polymyxa dapat menekan dan menghambat penyebaran bakteri Xanthomonas sp.